Karyawan dan Pengusaha

Sahabat, pernahkah diri sahabat bertanya kepada diri sendiri, “apa tujuan hidup saya..?” dan “Bagaimana menjalaninya…?”. Banyak dari kita yang menjalani hidup apa adanya, mengalir mengikuti arus dan mengikuti tren.  Berikut saya akan bercerita tentang seseorang yang saya kenal baik. Mudah-mudahan memberi manfaat untuk kita semua.

Sebuatlah namanya Kotaro Minami. Kotaro lahir di keluarga biasa-biasa saja, ayahnya seorang PNS bekerja di puskesmas dan Ibunya seorang Ibu rumah tangga sembari buka warung kecil-kecilan di rumah.
Kotaro menjalani hidup seperti pada umumnya, bermain dan sekolah dari TK hingga kuliah. setelah lulus kuliah dia kerja di sebuah Bank Terbesar di Indonesia. Ketika bekerja, dia mulai mengamati orang-orang di sekitarnya, kurang lebih pengamatannya seperti ini :
Masuk kerja dari pukul 07.30 s.d 16.30 (waktu standar perusahaannya bekerja) namun kenyataannya rata2 pegawai berangkat dari rumah pukul 05.30 kemudian pulang dan sampai di rumah antara 19.00 s.d 22.00 dan banyak juga yang pulang sampai jam 5 pagi dan dia salah satunya.
9 jam di kantor, 2,5 s.d 7 jam di jalan (maklum kerja di jakarta, macet nya ga karuan). Paling tidak 11,5 jam untuk bekerja 6 jam tidur dan tersisa 6,5 jam atau 27% saja di hari kerja waktu untuk keluarga.
Senin s.d Jumat seperti itu, kadang sabtu minggu pun ada lembur atau acara kantor bahkan kumpul sama teman kantor maka waktu untuk keluarga bisa jadi hanya 10% s.d 30% saja.

5 tahun menjalani kehidupan seperti itu, pertanyaan “apa tujuan hidup saya..?” dan “Bagaimana menjalaninya…?” makin sering berdengung dibenaknya. Sering dia teringat sebuah film yg dibintangi adam sandler berjudul “Click” tentang seseorang yg diberi remote “ajaib” bisa mem-pause dan fast forward kehidupannya.
di hari tua nya, Adam menjadi orang kaya dan sukses secara materi namun tidak dekat dengan keluarga, banyak momen yang Adam lewatkan. Ada satu petikan kata-kata Adam menjelang wafat “Family came first”, terjemahan bebasnya “keluarga yang utama”. Adam menyesal banyak waktu hidupnya dipakai hanya untuk bekerja.

Kembali ke Kotaro, dia berpikir bagaimana saat dia menikah dan punya anak nanti (saat ini dia belum menikah).
berangkat kerja ketika anak masih tidur dan pulang saat anak sudah tidur, hari sabtu dan minggu pun kadang harus masuk kerja, dia lihat keadaan itu di senior maupun atasannya.

Dia bertanya pada dirinya “untuk apa saya kerja?” mendapatkan penghasilan, mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarga, menyiapkan dana pensiun saat tua nanti, asuransi kesehatan, dan jamsostek, secara materi, ternyata HANYA ITU SAJA, dan semua itu harus ditukar dengan lebih dari separuh WAKTU produktifnya. Oleh karena itu dia mendesign hidup agar lebih banyak waktu untuk keluarganya. Tahu dan memahami tujuan hidup serta memilih cara menjalaninya.

Setelah membaca beberapa buku, diantaranya; The Miracle of Giving oleh Ust. Yusuf Mansyur, 7 Keajaiban Rejeki dan beberapa buku lain serta ikut dalam pelatihan oleh Ippho Santosa, dia memutuskan untuk berUsaha, resign dari pekerjaannya walaupun dijanjikan karir cemerlang dan sekolah sampai S3 di luar negeri oleh perusahaan tak membuat Kotaro ragu terhadap keputusannya.

Hal yang paling berat saat itu adalah mendapatkan restu dari orang tuanya. maklum, kebanyakan orang Indonesia menganggap bahwa bekerja di Bank, memiliki karir yang jelas, dihormati orang dan hidup terjamin, begitu pula dengan pemikiran orang tuanya. Butuh waktu lebih dari 2 tahun sampai orang tuanya memberikan restu untuk dia resign dan full berUsaha.

Banyak tantangan ketika dia mulai berUsaha, kebangkrutan, rugi ratusan juta, diejek dan ditertawakan tidak membuatnya patah semangat. Hingga kini tantangan tidak berhenti, menurut Kotaro, PR yang paling besar adalah perbaikan terus menerus dalam usaha yang dijalaninya.
Bersama rekannya, Kotaro menjalani dua usaha yang berbeda. Dari salah satu usahanya yang sudah berjalan auto pilot, dia mendapatkan penghasilan sama dengan saat dia bekerja di Bank dan bisa membantu orang tuanya berangkat umroh.

Menurutnya, saat usaha kita sudah di design auto pilot, “USAHA JALAN, PENGUSAHA JALAN-JALAN”. WAKTU adalah salah satu pendorong kuat dalam keputusan hidup Kotaro. Rancangan hidupnya agar banyak WAKTU yang digunakan dengan keluarga mulai terlihat jelas. Memang tidak mudah, namun TIDAK MUSTAHIL dilakukan. Saat ini Kotaro masih membangun usahanya dan mewujudkan rancangan hidupnya. Bagaimana dengan kita?

Pengusaha Sukses

Sahabat, hidup itu pilihan, menjadi pegawai ataupun pengusaha tidak ada yang salah. Ada kebaikan dalam keduanya, tinggal kita memilih mana yang menurut kita bisa memberikan lebih banyak kebaikan.
Jika menjalani dengan baik seorang pegawai bisa mendapatkan kebaikan lebih dibanding pengusaha yang tidak berilmu. Dan seorang Pengusaha yang baik bisa jauh lebih bermanfaat untuk orang banyak dari seorang pegawai yang hanya mengikuti arus kehidupan.

 

RA | All we Need is Allah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s